Special Show - 9 November 2015

Special Show KBR 68H - Reformasi Hukum dan Ham- Merajut pembangunan di Papua

Pagi ini Special Show hadirkan Silvana Maria dan Cristina Pengamat Pemberdayaan Perempuan. Membahas Perempuan dalam Pembangunan di Papua

Ibu Silvana berbagi kabar bahwa Papua memiliki 270 etnik dengan beragam bahasa dan budaya yang berbeda. Keadaan perempuan papua masa kini berbeda dengan masa lalu. Perubahan social begitu cepat dan dinamis . Selama 3 tahun terakhir budaya dan adat telah mengatur posisi dan fungsi serta kuasa perempuan dan laki laki. Kapling pria adalah mengolah lahan kebun untuk keluarga , atau melaut bagi nelayan, dan perempuan tugas domestic dirumah, masakdan mengurus keluarga. Namun berkembang pula kini bahwa perempuan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan para pria. Perempuan Papua menghadapi tantangan dibidang ekonomi dan keamanan, termasuk KDRT.
Dalam bidang ekonomi, mereka kehilangan lahan untuk mencari penghidupan karena tanah/lahan beralih kepihak lain. Perempuan mengalami kekerasan berlapis oleh komunitas dalam bentuk pembiaran atau stigma kekerasan Negara karena mendapat perlakuan keras dari aparat Negara. Biasanya perempuan Papua yang mengalami ini akan dikucilkan.

Cristina menyatakan bahwa perempuan Papua secara alamiah menjadi tulang punggung keluarga, sayangnya kekuatan ini belum difasilitasi sehingga optimal diberdayakan. Bila difitalisasi maka akan menjadi kekuatan besar. Keluarga adalah sel ini dari masyarakat sehingga adanya kerja sama antara pemerintah dan LSM akan meningkatkan kesejahteraan dan kekuatan perempuan papua.

Grand design nya 5 tahun kedepan harusnya  perempuan Papua sudah dapat menduduki jabatan di pemerintahan, perempuan Papua harus diberi akses fasilitas dan modaluntuk bergerak diekonomi. Bantu jangan hanya modal,melainkan juga pelatihan.

Program membangun kampung damai, kampung yang bebas kekerasan terhadap perempuan dan anak seperti di Wamena Jayapura.  Bekerjasama dengan kemensos diharapkan memudahkan program penguatan kapasitas perempuan. Tantangan ekonomi yang dihadapi perempuan cukup besar, kekuatan ekonomi yang datang ke Papua memarginalkan perempuan marginal Papua, inilah yang harus diperjuangkan.

Dalam hal kesehatan, menurunkan angka kematian ibu dan bayi menjadi sasaran utama,sesuai dengan nawacita membangun dari wilayah terlantar dan terpinggir terjauh.

Perlu tindakan khusus agar loncatan dapat tercapai, contohnya inpres 5/ 2008 tentang percepatan pembangunan Papua, yang memberikan kesempatan putra putri Papua menjadi TNI dan POLRI. Nah tentu saja  Inpres percepatan Pemberdayaan Perempuan papua dalam Pembangunan pun dapat kita ciptakan. Dengan design khusus, perempuan Papua dan NTT yang tertinggalsemoga dapat turut membangun dan mensejahterakan bukan hanya keluarga namun juga masyarakatnya. Semoga 5 tahun kedepan Perempuan Papua dapat lebih mampu merajut pembangunan di Papua

Ada yang ingin ditanyakan ? kirim WA atau Sms ke 08121188181