Workshop KBR : Menghitung Dampak dari Kebijakan Pro-Tembakau

Masalah tembakau adalah salah satu masalah di Indonesia yang belum mendapatkan penanganan serius. Banyak masyarakat yang menganggap kalau tembakau bukan masalah besar dan tidak berdampak langsung bagi masyarakat. Padahal berita tentang pengendalian tembakau ini sudah terdengar sejak lama. Pemerintah masih dianggap dilema antara pembatasan tanaman tembakau atau pro terhadap pengolahan tembakau. Hal ini terbukti dari masih ragunya pemerintah Indonesia menandatangani Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau FCTC.  Sebenarnya, apakah tembakau ini bermanfaat bagi manusia? Apakah tembakau segitu berbahayanya bagi masyarakat, khususnya generasi muda?

Hal yang perlu diluruskan adalah yang berbahaya bukan tanaman tembakaunya, kalau memang digunakan untuk produksi produk yang bermanfaat. Tapi bagaimana jika tembakau ini dijadikan bahan utama produksi rokok? Sejauh ini, tembakau memang sangat identik dengan rokok karena bahan baku pembuatnya. Ini membuat produksi rokok semakin banyak dan semakin banyak pula masyarakat yang menjadi perokok. Faktanya, Indonesia berada di urutan ketiga sebagai negara pengguna rokok terbanyak di dunia.  Dan yang lebih menyedihkan lagi, satuperlima diantaranya adalah anak-anak. Kita harus merasa sangat prihatin dengan kejadian yang ada di Indonesia ini. 

Melalui sebuah survey yang telah dilakukan, ada anak-anak yang sudah mulai merokok sejak usia 7 tahun. Fenomena ini dimanfaatkan para produsen rokok untuk membuat iklan yang secara tidak langsung memang menjadikan para remaja sebagai target utamanya. Pengawasan yang kurang dan rasa penasaran yang tinggi menjadi alasan anak-anak untuk mencoba rokok. Kalau terus menerus dibiarkan, anak bisa menjadi kecanduan dan menggerogoti kesehatan tubuhnya. Anak-anak tidak memiliki kemampuan untuk menilai resiko kesehatan dan sifat ketagihan akibat konsumsi rokok. Dan dampak konsumsi rokok ini baru akan dirasakan setelah 10-15 tahun kemudian. Bagaimana nasib negara ini kalau generasi penerusnya sakit akibat menghisap rokok?

Banyak fakta memprihatinkan lainnya dari rokok dan anak-anak di Indonesia. Menurut Tobacco Atlas Asean pada tahun 2014, lebih dari 30% anak-anak di Indonesia merokok sebelum usia 10 tahun. Perokok pemula usia 10-14 tahun ini naik dua kali lipat hanya dalam kurun waktu 10 tahun. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena anak-anak ini mulai mengenal rokok dari lingkungan terdekatnya. Mulai dari melihat orang terdekatnya merokok di rumah, hingga iklan-iklan yang tanpa sadar mereka lihat dilingkungan sekolahnya. Bahkan, beragam iklan rokok beredar dekat sekolah anak, salah satunya warung tempat anak-anak jajan. Selain itu, iklan luar ruang seperti baliho dan bilboard juga bisa dilihat dengan mudah oleh anak-anak. Global Youth Tobacco Survey 2014 menemukan bahwa 2 dari 5 siswa adalah perokok aktif dan 3 dari 5 siswa membeli rokok di warung atau kios.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah benar anak menjadi salah satu target para produsen rokok? Kalau melihat kondisi saat ini, hal ini memang tidak bisa dipungkiri lagi. Anak menjadi target pasar para produsen untuk menggantikan perokok senior yang sudah meninggal atau berhenti merokok. Padahal para orang tua yang perokok ini sudah pasti menginginkan sang anak tidak menjadi perokok seperti mereka. Selain itu, semakin dini anak merokok,maka semakin besar keuntungan bagi industri rokok. Anak-anak ini bisa menjadi sangat loyal dengan rokok yang sudah dicobanya, apalagi efek adiksi yang ditimbulkan rokok. 4 dari 5 remaja perokok mencoba untuk berhenti merokok tapi sayangnya tidak berhasil (Global Youth Tobacco Survey, 2014).

Pengenalan rokok kepada anak juga secara tidak sadar dimulai dari event-event besar yang sering dibuat produsen rokok. Secara tidak sadar, hal ini ikut mengenalkan anak pada rokok. Beberapa produsen rokok juga sering membuat kegiatan CSR sebagai salah satu nilai positif mereka. Padahal buku-buku CSR selalu menyatakan kalau industri rokok sebagai contoh bentuk corporate social irresponsibility dan perilaku tidak etis (mis. Blowfield dan Murray, 2008).

Masalah tembakau ini memang perlu penanganan yang serius, karena salah satu produk utamanya yaitu rokok sangat berbahaya bagi kesehatan. Sudah banyak informasi yang disampaikan tentang bahaya rokok bagi kesehatan. Tapi masih saja banyak masyarakat yang mengkonsumsinya, bahkan anak-anak. Pembatasan iklan yang sudah dilakukan pemerintah belakangan ini ternyata masih belum bisa menurunkan angka pengguna rokok. Sejauh ini, salah satu bentuk pembatasan iklannya adalah penayangan iklan rokok yang hanya boleh di malam hari. Tapi, hal yang luar biasa terjadi di daerah Kulonprogoro. Pemerintah daerah setempat telah melarang pemasangan iklan produk rokok diruang publik. Dan sepertinya hal ini perlu di contoh di beberapa daerah lain di Indonesia. Saat ini, Kulonprogo terbebas dari berbagai bentuk iklan rokok, mulai dari baliho, bilboard hingga iklan dalam bentuk kecil lainnya.

Tadi kita sudah membahas tentang bahaya yang ditimbulkan dari tembakau atau rokok ini sendiri. Lalu kenapa pemerintah tidak bertindak tegas dengan membuat sebuah keputusan pelarangan saja? Salah satu yang menjadi pertimbangan pemerintah tidak menutup pabrik rokok di Indonesia adalah banyaknya tenaga kerja yang harus “di’rumahkan” jika hal tersebut betul-betuk dilakukan. Menurut salah satu survey yang dilakukan, ternyata jumlah tenaga kerja di pabrik rokok di Indonesia tidak bertambah dalam beberapa tahun terakhir ini. Selain itu, untuk masalah petani tembakau yang dikhawatirkan tidak memiliki pekerjaan lain, hal ini bisa di patahkan. Karena beberapa tahun belakangan, banyak produsen rokok yang justru menggunakan tembakau import sebagai bahan baku. Dan menurut survey, petani juga merasa tidak keberatan jika harus beralih tanam menanam tanaman lain. Hal ini sudah dibuktikan dan dijalankan beberapa petani di salah satu daerah di Pulau Jawa.

Mantan petani tembakau mengatakan pendapatan mereka meningkat signifikan 69% setelah beralih tanam. Proporsi yang signifikan dari petani tembakau saat ini telah menunjukkan adanya kemauan untuk beralih ke pertanian non tembakau. Sementara yang lainnya mengaku masih menanam tembakau karena alasan sudah menjalankan profesi ini secara turun temurun. Baik petani tembakau saat ini atau mantan petani tembakau mengungkapkan bahwa pertanian tembakau bukan bisnis yang menguntungkan. Sekitar separuh dari petani tembakau saat ini tidak ingin keluarga mereka melanjutkan pertanian tembakau. Jadi, baik petani tembakau saat ini maupun mantan petani tembakau mendukung pemerintah Indonesia untuk membuat peraturan yang kuat tentang pengendalian tembakau. Cara ini berguna untuk mencegah generasi muda saat ini dan yang akan datang dari penyakit, kematian, dan ketidakmampuan yang disebabkan oleh tembakau.