Special Show - Rabu 21 Oktober 2015

Special Show KBR – Korupsi UU Pertembakauan

Bp. Jalal Pengamat Pembangunan Berkelanjutan menyatakan bahwa RUU pertembakauan belum mendesak untuk segera disahkan, namun ada RUU yang lebih utama untuk disahkan. Undang-2 Pengendalian minuman beralkohol, UU yang melindungi konsumsi rokok , memasukkan pasal rokok pada kebudayaan banyak ditolak, UU yang menyatakan melindungi petani tembakau tetap merugikan petani, yang untuk hanyalah pengusaha rokok. Rokok harus menggunakan tembakau petani sebanyak 80 %, tapi apa yanag terjadi kalau 300 ribu ton tembakau , 180 ton nya  ternyata impor?

Bp. Abdullah Dahlan dari ICW menyatakan bahwa kelahiran RUU tembakau harus sesuai dengan mekanisme, secara akademik disiapkan, urgensi dan kepentingannya apa, sudahkah sesuai atau belum sesuai dengan kerangka yang ada. Pantauan ICW , ada sejumlah regulasi yang dibuat untuk kepentingan tertentu. Dirancangan UU kesehatan, perlu ditinjau ulang rancangan UU pertembakauan. Dunia Bisnis memang memiliki kepentingan besar, sehingga muncul resistensi seolah kesannya dipaksakan.

Petani tak memiliki nilai tawar, sebagus apapun potensinya. Karena 100 persen perusahaan rokok yang selalu diuntungkan oleh kebanyakan rancangan UU.  UU yang mengatakan rokok dibuat dengan 80 % tembakau hasil petani dalam negeri dan 20 % dari luar, belum terwujud.  Produksi 260 milyar batang rokokmenjadi 399 milyar batang tahun ini dan kemudian akan menjadi 245 milyar batang rokok  di tahun 2020. Nah siapa yg diuntungkan oleh regulasi ini ?

Kemana arah keberpihakan regulasi dalam RUU pertembakauan ? Kemana ?

Terjadinya korupsi legislasi sangat dikhawatirkan, karena kepentingan lapis bawah selalu dirugikan. UU cukai dana bagi hasil tembakau misalnya 103 trilyun bagi hasil kedeaerah Cuma 2 %, bayangkan ? Belum lagi migas dan kehutanan ? 

Keberlangsungan Industri rokok yang merugikan rakyat, akan sampai kapankah ? 362 milyar batang adalah produksi rokok kita,sangat menguntungkan siapakah?

Cukai yang dibayar Industri rokok adalah 103 Trilyun, namun  biaya yang harus dikeluarkan untuk mengatasi akibat rokok adalah 378,75 trilyun berarti 3,75 kali lipat. Siapa untung siapa rugi, jelas terlihat disini.

Mari kita berharap agar UU pertembakauan ini akan pro rakyat dan pro kesehatan masyarakat, bukan hanya sekedar mencari keuntungan semata.