Obrolan Sore - Selasa 26 Mei 2015 - Promo Film Ayat Ayat Adinda

 

FILM AYAT-AYAT ADINDA

 Akhir-akhir ini kecintaan generasi muda terhadap Al Quran cukup memprihatinkan. Tidak banyak anak-anak maupun pemuda yang senang membaca, apalagi mempelajari Al Quran. Padahal, Al Quran merupakan pedoman hidup umat Islam.

 Sayangnya lagi sebagian besar kaum muslimin hanya menjadikan Al Quran sebagai pajangan di rumah, mulai dari ukuran kecil hingga ukuran yang besar. Al Quran hanya dibaca pada saat momentum tertentu, seperti acara walimahan, tabligh akbar, lomba dan sebagainya.

 Problem-problem tersebut di atas adalah cerminan ketiadaan cinta terhadap Al Quran di dalam keluarga khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Dimana kebanyakan orang membaca dan mengkaji Al Quran bukan atas dasar cinta. Konon lagi mencapai tataran mengamalkan nilai-nilai Al Quran berdasarkan cinta.

Jika sebuah keluarga cinta kepada Al Quran maka menguarlah gerakan kasih sayang baik di dalam keluarga tersebut maupun masyarakat lebih luas.

Untuk mendorong berkembangnya keluarga cinta Al Quran maka muncul sebuah insiatif masyarakat mengusung tajuk Gerakan Islam Cinta dan Indonesia Tanpa Diskriminasi yang berupaya mewujudkan cinta kasih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Gerakan Islam Cinta dan Indonesia Tanpa Diskriminasi merangkul 5 rumah produksi yaitu MVP Pictures, Studio Denny JA, Mizan Productions, Dapur Film dan Argi Film untuk meluncurkan seri film bernafaskan cinta Al Quran, kekeluargaan dan tanpa diskriminasi.

Salah satu film yang akan dirilis pada tanggal 11 Juni 2015 mendatang adalah Ayat-Ayat Adinda yang disutradarai oleh Hersu Saputra, yang berhasil menyutradarai film Merry Riana dan telah ditonton lebih dari 600.000 orang di tanah air. Film Ayat-Ayat Adinda diperankan oleh Surya Saputra, Cynthia Lamusu, Tissa Biani Azzahra, Deddy Sutomo, Yati Pesek, Chandra Malik, Badra Andhipani Jagat, Marwoto, dan Susilo Nugroho.

Skenario film Ayat-Ayat Adinda yang ditulis oleh Salman Aristo menceritakan tentang keinginan Adinda untuk membuat keluarganya terhormat dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya meski dididik dengan metode yang berbeda.

Memiliki suara merdu, tak lantas membuat Adinda (Tissa Biani Azzahra) mudah menjadi anggota tim qasidah sekolahnya.  Faisal (Surya Saputra), ayah Adinda melarangnya. Faisal dengan tegas meminta Adinda untuk fokus sekolah.

Selama ini keluarga Adinda tak pernah menetap lama di satu tempat. Mereka sering berpindah-pindah dan dikucilkan di manapun mereka tinggal. Perlahan Adinda mulai paham, hal itu diakibatkan kerena keluarganya dianggap sesat.  Walau Adinda sendiri tak mengerti apa itu sesat.

Terdorong oleh keinginan keluarganya dibanggakan dan dihormati oleh orang lain,  Adinda bertekad ikut lomba MTQ dan menjadi pemenang lomba tersebut.

Namun keinginan Adinda mendapat rintangan. Keberadaan Faisal mulai terusik. Faisal mengultimatum istri (Cynthia Lamusu) dan anak-anaknya, Zulfikar (Moh. Hasan Ainun) dan Adinda agar tak bertingkah macam-macam, yang membuat mereka menjadi sorotan. Salah sedikit, bukan hanya terusir kembali, keselamatan keluarga mereka pun terancam.

Larangan ayahnya tak membuat Adinda urung mengikuti lomba, tekadnya sudah bulat. Meski ia harus berbohong pada ayahnya. Satu tujuannya, membuat keluarganya terhormat dan tak lagi dianggap sesat.

 Drama tersebut menjadi cerita utama dalam film tersebut. Salman Aristo berhasil meramu kisah tersebut menjadi cerita yang mengharukan, penuh ketegangan dan sekaligus menginspirasi.